Browsed by
Author: didaytea

Sedekah Receh Gratis (Do’a) Masuk Surga

Sedekah Receh Gratis (Do’a) Masuk Surga

“Uang yang jumlahnya tidak seberapa untuk kita, kadang berarti segalanya untuk orang- orang miskin di luar sana”

 

            Sambil menunggu tiket keberangkatankku ke Qatar, aku mempunyai beberapa hari sebagai “pengangguran” karena aku sudah berhenti bekerja di perusahaan lamaku. Waktu itu kugunakan untuk membereskan barang- barang yang masih tersisa di rumah kontrakanku.

Seperti biasanya, pagi hari di Cilegon sudah terasa seperti jam sepuluh di Bandung, hawanya terasa sudah hangat- hangat kuku menjurus panas, dan pastinya dilengkapi kelembaban khas daerah yang dekat dengan pantai.

Agendaku hari itu adalah membuang semua barang tidak terpakai yang tidak akan bisa kubawa pulang ke Bandung.

Tak berapa lama, kardus- kardus televisi, mesin cuci, kulkas dan pemutar DVD yang tadinya tertumpuk rapi di pojok kamar mungilku, sudah berpindah ke teras depan rumah.

Karena debu sudah menumpuk tebal di sudut- sudut ruang tamu, aku tunda sebentar agenda beres- beres kardus dan barang bekas untuk menyapu setiap sudut ruangan di rumahku itu.

Ketika sedang menyapu hampir setiap debu yang nampak dengan tekun, tiba- tiba terdengar suara salam yang lantang daridepan rumahku:

“Assalaamu’alaikum..!” Suara seorang laki- laki setengah baya itu terdengar dengan lantang.

“Wa’alaikumsalaam!” Jawabku sambil berjalan keluar.

“Aih..gimana kabarnya Nong..?” Tanya si Bapak dengan wajah yang terlihat lusuh dan kelelahan. Nong, adalah panggilan akrab bahasa daerah Banten dari yang lebih tua kepada yang lebih muda. Nong ini harusnya panggilan untuk wanita, untuk pria sih seharusnya Teng, tapi entah kenapa, pedagang nasi uduk di dekat rumahku juga memanggil semua anak laki- laki dengan panggilan Nong juga. Termasuk si Bapak ini, memanggilku dengan sebutan Nong.

“Alhamdulillah Pak, sehat. Ada yang bisa saya bantu?” Tanyaku dengan muka penasaran. Aku belum pernah bertemu dengan si Bapak ini sebelumnya.

“Itu, kerdus- kerdus yang di teras mau dikemanain ya? Mau dijual atau mau dibuang?” Si Bapak dengan antusias.

Ternyata si Bapak itu adalah seorang pemulung, dia membawa sebuah sepeda ontel dengan dua buah karung goni besar yang dikaitkan di sisi kanan dan kiri sepedanya.

“Bapak beli semuanya boleh ya?” Dia bertanya lagi dengan wajah yang agak memelas sebelum sempat kujawab.

Kerdusnya masih bagus- bagus, bapak beli mahal deh!” Ujarnya lagi sambil berjalan masuk ke teras rumahku dan mulai memegang- megang kardus- kardus yang memang masih terlihat bagus dan bersih.

“Kalau Bapak mau ya ambil saja, tidak usah dibeli. Tadinya memang mau saya buang kok! Tuh di dalam masih ada, sebentar ya saya ambilkan lagi” Jawabku sambil masuk ke kamar mengambil kardus- kardus lain yang belum kukeluarkan.

“Beneran Nong? Bapak ngga usah bayar nih?” Tanya si Bapak pemulung tadi dengan muka berbinar- binar.            Hilang sudah wajah memelas dan kuyunya itu.

“Iya Pak, sok, ambil saja semuanya!” Jawabku sambil tersenyum.

Dan tak berapa lama si Bapak itu pun dengan cekatan mengambil karung besarnya dari sepeda, dan mulai melipat- lipat kardus- kardus bekas itu.

Buatku, kardus- kardus itu adalah sampah, tapi sepertinya, buat si Bapak itu kardus- kardus itu adalah “makan hari ini”. Karena kulihat mukanya sangat bahagia, jauh berbeda dengan wajahnya yang pertama kulihat.

Ah, tiba- tiba aku terpikir bahwa aku mempunyai beberapa helai sarung dan baju bekas yang juga rencananya akan kubuang. Aku tinggalkan saja si Bapak yang sedang asyik melipat- lipat kardus- kardus itu untuk mengambil baju dan sarung bekas.

Tak lama kemudian, kardus- kardus besar itu sudah terlipat dengan rapih di dalam karung besar, dan sudah tertumpuk dengan rapih di dua sisi sepeda ontel antik si Bapak pemulung itu.

“Bapak, saya punya sarung dan baju bekas. Bapak Mau?’ Tanyaku sambil berjalan keluar dari ruang tamu dan menyodorkan kantong plastik berisi dua helai sarung dan dua helai kemeja yang masih lumayan bagus.

“Beneran ini Nong?” Tanya si Bapak dengan terkejut.

“Ini kan masih bagus, Bapak kan cuma menerima barang rongsokan.” Ujar dia sambil berjongkok dan  membolak- balik kemeja dan sarung di dalam  kantong plastik itu.

“Iya Pak, sok itu buat Bapak, saya masih punya banyak. Dan beberapa hari lagi saya mau pulang ke Bandung, dan setelahnya langsung pergi ke luar negeri, alhamdulillah saya baru dapat pekerjaan di sana.” Jawabku sambil ikut berjongkok di sebelahnya.

“Alhamdulillaah…Bapak memang lagi ngga punya baju dan sarung. Punya Bapak sudah robek- robek dan kucel semuanya!” Ujar si Bapak dengan raut muka lebih bahagia lagi dari yang tadi kulihat, sambil mematut- matut dirinya di depan kaca ruang tamuku dengan kemeja yang kuberi.

“Hmmm…padahal itu hanya baju dan sarung bekas ya, tapi dia sudah bahagia seperti itu? Kesempatan nih, apa lagi ya yang bisa kuberikan buat si Bapak? ” Ucapku dalam hati sambil tersenyum- senyum melihat tingkah laku si Bapak yang seperti anak kecil yang baru saja diberi mainan baru.

Tiba- tiba aku teringat koleksi uang recehku di dalam toples. Uang- uang receh itu adalah kembalian dari supermarket, warung, warteg yang terkumpul selama beberapa tahun. Uang- uang receh di dalam toples itu adalah andalanku ketika aku kehabisan uang di tanggal tua. Uang- uang receh itu adalah penyambung hidupku ketika uangku habis sama sekali, walau pun hanya untuk sekedar membeli makan atau mie instan dari warung di sebrang rumahku.

Itu kan lumayan berat kalau dibawa ke Bandung, lagian, pasti repot banget kalau harus kutukar uang logam ratusan, lima puluhan dan lima ratusan itu. Entah berapa isinya sih, tapi kutaksir, paling banyak uang di dalam toples plastik itu hanya sekitar dua puluh ribuan.

Nong, Bapak mau pamit nih, makasih banyak ya!” Kata si Bapak itu sambil memeluk kantong plastik berisi kemeja dan sarung pemberianku.

“Sebentar Pak, saya masih punya sesuatu nih! Sini dulu sebentar, tunggu ya!” Kataku sambil berlalu ke dalam rumah untuk mengambil toples plastik berisi uang receh itu.

“Apalagi sih Nong? Ini juga udah kebanyakan sih, ngga usah ngerepotin lagi!” Jawab si Bapak sambil berjalan masuk lagi, dan kali ini dia duduk di teras.

“Bapak saya kasih uang mau ngga? Tapi Uangnya logam semua!” Tanyaku dengan sedikit ragu ragu.

“Uang Nong?” Tanya si Bapak dengan keheranan.

“Kalau uang mah ya Bapak terima aja, biar pun receh juga.” Ujar si Bapak lagi.

“Iya Pak, uang, masa koin buat ding- dong!” Jawabku sambil beranjak mendekati si Bapak.

“Ini Pak, uangnya,, tolong diterima ya, maaf saya ngasihnya receh!” Sambil kusodorkan toples plastik berisi setumpuk uang logam receh itu ke tangannya.

“Atuh Nooong, ini mah banyak banget..!” Kata si Bapak itu dengan terkejut. Tapi sesudah itu dia langsung terdiam.

Kupandangi dia beberapa saat. Dan lalu kulihat badannya seperti bergetar, dan dia mulai sesenggukan menangis. Dan dia tiba- tiba menjatuhkan badannya, dia bersujud di depanku!

“Eh, Bapak ngapain, kok pake sujud- sujud gitu segala? Kenapa Bapak menangis?” Tanyaku dengan terkejut dan heran.Dan langsung kuangkat badannya.

Nong, anak Bapak lagi sakit demam. Bapak sudah ngga punya duit lagi buat berobat. Sudah tiga hari bapak keliling komplek ini, tapi Bapak belum dapet apa- apa.” Jawabnya dengan terisak menahan tangis.

“Bapak sujud ingin bersyukur sama Allah Yang Maha Besar, Allah ngasih jalan biar Bapak lewat jalan ini biar ketemu sama Nong. Akhirnya Bapak bisa dapet kardus- kardus yang masih bagus.”

“Bapak udah cukup seneng dengan dikasih kardus- kardus itu Nong, karena pasti bakal laku mahal, karena masih pada bagus dan lumayan banyak.” Jawabnya lagi sambil menimang- nimang toples plastik berisi koin itu.

“Eh, ternyata Nong malah ngasih baju sama sarung yang masih bagus banget.”

“Dan sekarang, Nong malah nambahin juga ngasih uang sebanyak ini!” Ujarnya lagi sambil memandangi uang di dalam toples plastik itu dengan berkaca- kaca.

“Makasih banyak ya Nong, makasiiih banyak..!” Katanya lagi sambil memegang tanganku.

“Sama- sama Pak, semoga bermanfaat buat Bapak dan keluarga Bapak!” Jawabku, sambil menenangkan diri, karena mulai terbawa terharu oleh si Bapak.

“Bapak doain Nong biar terus sehat, panjang umur, rejekinya makin banyak, dan sedekah Nong hari ini sama Bapak bisa ngebawa Nong ke surga!” Kata si Bapak mengucapkan doa itu sambil menengadahkan kedua tangannya ke atas, dan mengusap- ngusap kepalaku dengan lembut.

Selama beberapa menit, tak henti- hentinya si Bapak berurai air mata, bergumam dan berdoá sambil menengadahkan kedua tangannya.

“Duh, padahal semua benda pemberianku itu bisa dibilang ‘tidak berguna’, tapi buat si Bapak, dia seperti mendapatkan harta yang luar biasa banyak. Bahkan dia mendoákanku dengan sungguh- sungguh, dan berurai air mata”

Alhamdulillah, Maha Suci Engkau ya Allah yang telah mentakdirkan si Bapak itu lewat di depan rumahku dan membuatku didoákan seperti itu.

Bedah Hikmah:

 

Adegan seperti ini mungkin sering dialami oleh kita. Di luar sana, masih banyak orang- orang yang membutuhkan bantuan. Di luar sana banyak orang – orang fakir miskin yang masih memiliki harga diri dengan tidak mengemis atau meminta- minta.

Dengan sedekah, sebenarnya bukan yang kita beri sedekah yang mendapat keberuntungan.

Sedekah itu semua manfaatnya akan kembali kepada diri kita.

Pahala yang berlipat ganda.

Sedekah itu juga penolak bala.

Balasan sedekah itu akan kita rasakan langsung balasannya, bahkan sejak di dunia.

Betapa sering kita membaca dan mendengar cerita tentang keajaiban sedekah. Orang- orang yang secara instan dibalas oleh balasan yang berlipat- lipat oleh Allah, syariatnya karena sedekahnya.

Sampul Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini

 

Kakek- kakek di Baris Pertama

Kakek- kakek di Baris Pertama

Kakek- kakek di Baris Pertama

Di Mesjid terbesar di RW tempatku tinggal, setiap tempat di baris pertama di mesjid itu seolah sudah mempunyai nomor tiket dan sudah dibooking oleh para kakek-kakek itu.  Sebelum adzan berkumandang, tubuh- tubuh renta dan ada yang sudah sedikit bungkuk itu sudah berdiri dengan rapi di baris pertama. Mereka sudah mempunyai, atau tepatnya membooking tempatnya sendiri- sendiri. Yang lowong hanya tempat sang muadzin dan tempat imam. Jamaah selain mereka, murid dan guru TPA tidak akan berani mengambil tempat mereka sebelum memastikan bahwa yang “ punya kapling” memang benar- benar tidak datang. Dan juga, para kakek- kakek ini memang selalu datang jauh lebih awal dari waktu sholat. Di antara para kakek- kakek itu salah satunya adalah kakekku.

Sejak aku mulai mengajar Iqra di TPA itu, ketika aku masih mengenakan seragam putih-abu, sampai terakhir kali aku pergi merantau ke Cilegon, “Baris  Pertama Fans Club” ini tidak berubah sama sekali. Hanya sholat Ashar dan Zhuhur berjamaah, kadang beberapa dari mereka yang absen mengisi baris pertama ini.

Sisanya, sholat Jum’at, Subuh, Magrib dan Isya, bahkan sholat Idul Adha dan Idul Fitri pun, shaf pertama selalu menjadi “daerah kekuasaan” mereka.

Hampir di setiap acara pengajian, “kelompok baris pertama” ini tetap istiqomah dan selalu berada di tempat yang sama.

Aku melihatnya sebagai sebuah keindahan dari keteladanan.

Ada sih, yang melihatnya sebagai monopoli dan penguasaan sepihak, tapi kalau dipikir- pikir sih, ya itu salah mereka, tidak datang lebih dulu dari mereka.           Ada juga yang melihatnya sebagai sebuah kewajaran. Karena secara, mereka kan sudah tua, sudah dekat dengan kematian.

Sudah seharusnya mereka memang bersemangat seperti itu.

Setelah aku hijrah ke Cilegon, aku pulang mudik ke Bandung biasanya satu bulan sekali.

Ketika pulang, tak pernah kulewatkan kesempatan untuk berjamaah di mesjid yang gerbang sampingnya berseberangan dengan pintu belakang rumah ku itu. Selain untuk bersilaturahmi dengan teman- teman mengajiku, dan murid- muridku di TPA mesjid itu, aku juga ingin melihat dan bersilaturahmi dengan para penghuni baris pertama.

Tahun- tahun pertama tidak ada yang berubah. Sosok tubuh- tubuh renta renta itu masih penjadi penghuni baris pertama.

Kira- kira lima tahun setelah aku meninggalkan Bandung, kabar buruk pertama akhirnya datang. Adikku mengirim sms, memberi tahu bahwa salah satu kakek- kakek di baris pertama ada yang meninggal. Katanya karena stroke.

Entah kenapa, hatiku langsung bergetar dan spontan mendo’akan si kakek itu agar mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana. Aku mendo’akan agar keistiqomahannya sholat di mesjid, dan baris pertama itu menjadi tiket untuknya ke surga yang terindah kelak.

Ujung mataku tak mampu menahan jatuhnya air mata yang entah sedih, atau terharu, ketika kabar itu sampai ke telingaku.

Ketika aku pulang setelah kabar itu, penghuni tempat yang biasa di booking oleh si kakek  sudah berganti. Kali ini tidak ada yang permanen mengisi tempat itu.Sosok tubuh yang berdiri di sudut itu selalu berganti setiap waktu sholat.

Sudah takdir manusia untuk akhirnya harus menghadap penciptanya.

Tahun demi tahun berganti, dan akhirnya satu demi satu dari mereka pun mulai berguguran”, menyusul si kakek pertama.

Ada yang sudah meninggal dan ada juga yang sudah tidak kuat lagi untuk berjalan ke mesjid.

Sampai terakhir aku pergi ke Qatar, hanya kakekku saja dan dua orang kakek lainnya yang tersisa di baris pertama. Dan hanya mereka juga yang tersisa. Hanya mereka yang masih hidup dari lima belas orang kakek- kakek penghuni baris pertama.

Semoga mereka yang masih hidup tetap istiqomah menjaga kondisi mereka seperti sekarang, sehingga mereka bisa meraih Husnul Khotimah, akhir yang baik di kehidupan meraka.

Dan semoga segala usaha, dan keletihan mereka untuk selalu membawa tubuh rentanya berjalan ke mesjid akan menjadi tiket untuk syurga yang terindah untuk mereka kelak.

Semoga Allah memberikan aku dan semua muslim kekuatan agar aku bisa memiliki keistiqomahan untuk bisa sholat berjamaah ke mesjid sampai tua seperti para kakek- kakek penghuni baris pertama itu.

Amin.

 

Sampul Oase

Brute Force Attack Al Qur’an

Brute Force Attack Al Qur’an

“Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada”

Hafalan Mentok

Ada salah satu adegan di dalam film Transformers, ketika si robot alien yang menjelma menjadi sebuah boom box, dengan mudahnya menjebol password dan sistem keamanan di  NSA hanya dalam beberapa saat.

“Even though it will do brute force attack to break the our security, it will take thousands of years, but this thing just breached our security wall in a matter of second!” Kata si Teteh berambut pirang dengan logat Britishnya yang sangat kental.

Brute force attack adalah metode untuk memecahkan suatu kode dengan mencoba satu per satu semua kemungkinan yang ada.

Pengertian dari PCMag: “The systematic, exhaustive testing of all possible methods that can be used to break a security system”.

Sederhananya, seperti kita lupa kombinasi kunci koper yang hanya tiga digit. Ada 4960 kemungkinan kombinasi yang harus kita coba satu per satu.

Sudah beberapa tahun ini saya selalu mentargetkan untuk bisa menghafal Juz’Amma. Dengan target jangka panjang, menghafal seluruh 30 Juz Al Qur’an tentunya.

Tapi entah kenapa, selalu mentok, bahkan di surat pertama: An Naba.

Dan biasanya, begitu mentok, ya sudah saya menyerah deh. Paling banyak yang bisa saya hafal, sepuluh ayat, itu pun timbul tenggelam. Kadang tidak hafal sebagian, kadang ingat sebagian. 😀

Takdir Allah, saya mendengar ceramah  Kajian Makrifatullah Aa Gym yang terbaru, di tahun  2013, ada bagian yang membahas tentang menghafal Al Qur’an, ada juga tweet dari ustadz Yusuf Mansur, dan @HapalQuran.

Intinya ya seperti Bruce Force Attack  tadi, ketika kita sudah berniat menghafal Al Qur’an, ya kita harus mencoba setiap langkah, daya dan upaya.

Kalau kata Aa Gym sih, hikmahnya ketika kita sudah berusaha keras tapi belum hafal- hafal juga, mungkin Allah ingin kita lebih sering lagi membaca Al Qur’an. Kan, makin susah hafal, kita seharusnya makin banyak membacanya. Dan ada sepuluh kebaikan dari setiap huruf yang kita baca.

Mungkin jika kita langsung hafal, kita malah jadi malas lagi membacanya, karena mentang- mentang sudah hafal.

Selama empat tahun, ya, empat tahun, saya selalu menyerah. Boro- boro bisa menghafal full 30 Juz, Juz Amma saja, di luar surat- surat pendek yang sudah biasa kita hafal sejak TPA sepulang sekolah SD dulu, aku sudah menyerah. Surat paling panjang yang saya hafal paling, Al Fajr, dan itu juga masih “belang- betong”, masih sering ada ayat yang terlewat. Kalau Al A’Laa dan Al Ghasyiyah mah Alhamdulillah, akurasinya sudah 99%. Ketiga surat ini pun, baru tahun- tahun ini saja bisa saya hafal.

Masih kalah sama anak- anak TPA atau SD Islam, yang rata- rata sudah hafal Juz 30.

Tadinya mau saya acak saja urutannya. Karena An Naba ngga hafal- hafal, coba yang lain. Al Bayyinah. Eh, ternyata walaupun Cuma delapan ayat, tapi sama aja, panjang.

Tapi ya kenyaataannya seperti itu.

Pada akhirnya, saya memilih untuk bersembunyi di balik alibi bahwa masih banyak orang Islam yang belum bisa membaca Al Qur’an, masih banyak orang Islam yang jarang mengaji Al Qur’an.

Keinginan saya kembali berakhir sebatas niat.

Saya menyerah. Dan di dalam sholat pun, surat yang saya baca tidak pernah beranjak dari At Takatsur, Alam Nasyrah, Al Maa’un, At Tiin, dan tentu saja trio “Qul”, Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas. :D.

Niat Lagi

Di Awal tahun 2013 ini, saya bertekad  untuk mencoba lagi menghafal Juz ‘Amma. Kali ini serius saudara- saudara. Apalagi setelah sering membaca tweetnya Ustadz Yusuf Mansur dan @HapalQuran tentang One Day One Ayat, makin kuatlah tekad saya tersebut.

Kembali ke adegan film Transformer tadi. Adegan pendek di film itu menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama: Brute Force Attack.

Tapi kali ini targetnya adalah Al Quran.

Target utama yang terdekat saya empat bulan yang lalu tentunya seperti biasanya: Surat An Naba.

Saya beli CD murottal yang per Juz.

Ketika mudik dua bulan yang lalu, saya membeli Al Qur’an hafalan.

Tidak satu atau dua, tapi tiga!

Satu saya simpan di tas. Satu di dekat komputer, dan satu lagi di rak buku. Agar setiap saat, ketiadaan Al Qur’an di dekat saya tidak menjadi alasan.

Di iQuran, saya book mark surat An Naba.

Di telepon genggam, saya buat playlist khusus untuk Juz 30.

Sepanjang perjalanan ke tempat pekerjaan yang menghabiskan waktu selama satu jam, saya hampir selalu menyetel Surat An Naba. Di bis Surat An Naba. Sholat, surat An Naba.

Sebelum tidur, hampir selalu surat An Naba yang saya putar. Dengan harapan akan masuk ke dalam alam bawah sadar saya, seperti yang dibilang di dalam buku Quantum Learning. Apa yang kita dengar sebelum tidur, dan selama tidur, akan lebih mudah masuk ke dalam pikiran dan otak kita.

Pokoknya mah, tiada hari tanpa Surat An Naba deh!

Eh ternyata setelah dua bulan, masih belum hafal juga.

Terus lagi nyoba.

Lebih sering, lebih sering, beli CD lagi, Syaikh Abdurrahman As Sudais, 17 CD, biar jelas suaranya.

Sebelumnya CD yang saya selalu putar adalah dari Syeikh Khalifa At Tunaiji, ini sangat lambat. Tapi bagusnya, ada dua kali bacaan. Yang pertama membaca adalah Syeikhnya sendiri, terus diulang oleh seorang muridnya, anak kecil.

Ketika shift malam, bisa digeder, diputar semalaman sambil bekerja. Eh, ngomong- ngomong, digeder apa ya bahasa Indonesianya?

Dikeureuyeuh?

Ini juga masih bahasa Sunda ya? Hehehe

Diikuti dengan membaca terjemah per katanya.

Kurang lebih, artinya melakukan pekerjaan yang sama berulang- ulang sesering mungkin.

Saya pecah hafalan menjadi dua bagian, halaman pertama (halaman 582) dan halaman ke dua (halaman 583). Biasanya sih, saya baca ketika sholat rawatib atau tahiyatul masjid.

Saya juga membaca tafsir surat An Naba.

Ah, pokoknya, semua alternatif dan langkah serta tips untuk menghafal Al Qur’an tadi saya lakukan semuanya.

Alhamdulillah, ada perkembangan yang signifikan walau pun masih “apal cangkem” (hafal saja, tanpa mengetahui artinya).

Ini sudah sangat lumayan, dibanding “niat- niat” saya yang sebelumnya. Walau pun masih sering nge-blank  ketika di dalam sholat, tapi mulai sering saya bisa membaca terus hingga halaman pertama hampir habis.

Tadinya saya ingin membuat sibuk sebagai alasan. Kenapa masih belum hafal juga, padahal sudah dua bulan.

Memang pastinya kasus akan berbeda dengan lingkungan yang sengaja dibentuk seperti Daarul Quran, atau Rumah Hafiz. Mereka minimal bisa menghafal satu halaman dalam satu hari. Tujuh sampai delapan jam waktu mereka dalam sehari sepenuhnya digunakan untuk menghafal.

Tapi tidak bisa jadi alibi. Waktu luang bisa kita buat dan usahakan, bukan kita yang menunggu waktu luang. Yang lebih penting adalah niat.

Kalau niat menghafal saja tidak ada, bagaimana mau rutin membaca Al Qur’an kan?

Untuk orang seperti saya, yang bekerja shift,  kadang ketika sudah berkomitmen kuat pun, selalu saja ada kendala untuk mengkhususkan waktu. Sangat sulit untuk bisa menghafal pada waktu yang sama.

Jadi cara yang agak berhasil sih, ya itu tadi brute force attack, karena tidak terikat jadwal. Harus seperti striker oportunis, yang pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ada momen sedikit saja, langsung deh saya eksekusi. Jika kuat, dan niat sholat sunat, tidak ada surat lain yang saya baca selain An Naba.

Berhasil!

Dan lima hari yang lalu, Alhamdulillah, Allahuakbar! Empat puluh ayat Surat An Naba berhasil saya baca dari awal sampai akhir di dalam sholat tahiyyatul masjid. Setelah empat tahun berniat menghafal Juz Amma.

Alhamdulillah,  walau pun tidak sepenunya lancar, dan hanya 60 persen artinya yang mengikuti bacaaan saya, tapi ini pertamax kalinya saya bisa membaca Surat An Naba di luar kepala.

Dengan karunia Allah, dan Brute Force Attack tadi akhirnya saya berhasil.

Belum berhasilnya kita menggapai keinginan kita, kemungkinan besar karena kita terlalu cepat menyerah dengan keadaan. Belum mencoba segala kemungkinan yang ada.

Semoga setelah ini jalan saya untuk menjadi penghafal Al Qur’an menjadi lebih mudah, lebih luas dan lebih lapang.

Mari menghafal Al Qur’an!

(Terima kasih kepada Ustadz Yusuf Mansur, Aa Gym dan @HapalQuran)

Sampul Apa Yang Paling Berkesan Hari Ini

Indahnya Hidayah

Indahnya Hidayah

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”.

(QS Ali Imran ayat 8)

Pasang Surut

Seperti halnya lautan luas yang terikat dengan pasang dan surutnya, begitulah juga kondisi keimanan kita.

Ketika iman sedang pasang memenuhi hati, semangat diri ini sangatlah tinggi. Tak pernah sekali pun sholat- sholat rawatib setelah sholat berjamaah di mesjid terlewati, tubuh pun terasa sangat berat ketika hendak beranjak pergi. Sehari pun sedekah tak pernah terhenti. Munajat setelah sholat malam selalu dinanti. Delapan rakaat sholat dhuha pun tanpa lelah kita jalani.

Tapi, jika iman di dalam relung hati kita sedang surut, kita sudah tak sabar ingin segera mengucap salam ketika bibir pun belum sepenuhnya tertutup selepas takbir,.

Sangat jarang kita bisa merasakan lezatnya menghadap Allah di dalam sholat- sholat kita.

Sholat hanya menjadi sebatas kewajiban yang rutin layaknya mengisi absensi di sekolah.

Hanya sekedar hadir.

Hanya sekedar sah.

Hanya sekedar melakukan.

Kita tidak melewatkan satu kali pun sholat berjamaah di mesjid untuk dua hari, tapi kemudian berminggu- minggu tidak nampak sekali pun di sana.

Sebuah pertandingan sepakbola, atau sekedar film yang sebenarnya bisa kita hentikan sejenak pun seringkali sudah cukup hebat untuk bisa menunda dan memberatkan langkah kita untuk mengambil air wudhu.

Pantang Menyerah

Kesalahan kita ketika iman kita sedang surut, kita seringkali menyerahkan diri kepada kesanggupan diri semata. Kita seringkali menyalahkan kelemahan jiwa kita yang tidak sanggup melawan hawa nafsu kemalasan.

Kita merasa nyaman bersembunyi di balik alibi kelemahan itu, yang membuat kita malah semakin terpuruk ke dasar jurang kemalasan.

Kita sering menyerah ketika sudah mencoba segala macam cara agar bisa menjadi orang yang lebih baik, untuk mendekat kepada Allah.

Kita lupa untuk berserah diri kepada Allah.

Kita lupa, bahwa Allah Yang Maha Kuasa dan membolak- balik hati manusia.

Kita lupa bahwa minimal tujuh belas kali di dalam sholat dalam satu hari, kita sudah meminta kepada Allah agar ditunjukkan jalan yang lurus.

Kita lupa untuk berdoa agar diberi hidayah.

Walau pun kita sudah tak sanggup lagi untuk menahan kuatnya cengkeraman kemalasan, tetap janganlah pernah menyerah.

Mungkin itu adalah jalan dari Allah yang sedang menguji kesungguhan kita untuk berubah menjadi lebih baik.
Teruslah berdoá.

Hidayah Dari Hal- hal Kecil

Sering- seringlah berdoa kepada Allah agar diberi hidayah. Bahkan walau pun keadaan iman kita sedang terpuruk ke dasar kelemahan iman yang paling dalam.
Allah seringkali memberi hidayah melalui hal- hal yang kecil dan tidak pernah kita sadari keberadaannya.

Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat malam di sepertiga malam terakhir, kadang datang dengan hanya berupa desakan untuk pergi ke kamar kecil yang membangunkan nyenyaknya tidur kita.

Hidayah untuk bisa merasakan nikmatnya sholat Dhuha dan tadarus,  kadang datang ketika kita sedang mengantar anak- anak kita sekolah Al Qurán, dan tidak ada tempat lain untuk menunggu selain di mushola.

Hidayah untuk kita agar bisa diam lebih lama di mesjid setelah sholat Jum’at kadang Allah datangkan melalui orang- orang yang langsung berdiri untuk sholat di belakang kita. Sehingga kita “terpaksa” untuk sholat sunah juga.

Allah kadang mengundang kita ke rumah-Nya dengan mengirimkan seorang tamu yang sholeh, dan dia ditakdirkan untuk mengajak kita untuk sholat berjamaah di mesjid.

Satu- satunya jalan yang tersisa untuk mengundang hidayah, adalah jangan pernah terputus untuk memohon kepada Allah Yang Maha Memberi Hidayah, Yang Maha Membolak- balik hati kita, agar kita segera terbebas dari ikatan belenggu kelemahan iman.

Didaytea

Doha, 12 Oktober 2013

easystreet

Syurga Untuk Istriku

Syurga Untuk Istriku

Kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum

Beberapa jam yang lalu saya membaca sebuah kisah Fatimah Az Zahra dan Gilingan Gandum. Di website tersebut dicantumkan sumbernya dari Syarah ‘Uquudil lijjaiin karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani.

Saya rangkum kisah tersebut dan saya interpretasikan sendiri dengan salah satu ceramah dari Ust. Abu Syauqi, tentang kisah yang sama.

Pada suatu waktu Rasulullah SAW menemui putrinya Fatimah yang sedang  menggiling sejenis padi-padian dengan gilingan yang terbuat dari batu sambil menangis.

Ketika Rasulullah SAW bertanya kenapa dia menangis, Fatimah pun curhat kepada beliau.

“Ayahanda, aku ini anak Rasulullah SAW, anak seorang pemimpin negara, tapi lihatlah tanganku ini, sampai lecet- lecet karena harus menggiling gandum dengan gilingan batu!” Dengan diiringi isak tangis.

Kemudian Rasulullah S.A.W bersabda kepada putrinya:

“Jika Allah menghendaki wahai Fatimah, niscaya penggilingan itu akan berputar dengan sendirinya untukmu, akan tetapi Allah telah menghendaki menuliskan beberapa kebaikan dan menghapus beberapa kesalahanmu dan mengngkat beberapa derajat untukmu, Ya Fatimah… Perempuan mana yang apabila menggiling gandum/tepung untuk suami dan anak-anaknya maka Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya satu kebaikan(pahala) dan mengangkatnya satu derajat.

Rasulullah SAW masih melanjutkan dengan menyebutkan banyak sekali keutamaan dan ganjaran yang akan didapat oleh seorang wanita yang menjadi istri dan ibu.

Silahkan langsung ditanyakan saja kepada mas Google untuk membaca kisah lengkapnya yang lumayan panjang.

Hikmah

Kisah di atas tentunya masih sangat relevan dengan kondisi yang dialami oleh kita yang hidup empat belas abad setelah periode Rasulullah SAW.

Kisah ini akan memiliki hikmah yang lebih istimewa dengan para istri yang suaminya bekerja di negeri orang. Ada paradox yang terjadi. Ketika penghasilan suami dan taraf hidup suami mereka sangat berlebih jika dibandingkan dengan bekerja di negeri sendiri, sama sekali tidak mengurangi beban pekerjaan rumah tangga yang mereka lakukan. Sama sekali tidak mengurangi kesibukan dan beban mereka mengurus suami dan anak- anak. Yang ada malah bertambah dan berlipat- lipat, karena mereka harus melakukan segala sesuatunya sendirian.

Jika kita melihat sekilas memang seperti tidak adil untuk para wanita yang menjadi seorang istri dan Ibu. Saya yakin sekali yang paling syok adalah mereka yang sebelumnya terbiasa memiliki pembantu di rumahnya dan belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Apalagi mereka yang tadinya pernah bekerja, sebelum ikut hijrah mendampingi suami mereka.

Walau pun suami mereka sudah berusaha membantu pekerjaan rumah, selalu ada hal- hal yang tidak tergantikan perannya.

Ada sih pengecualian, untuk mereka yang sudah menempati posisi yang lumayan tinggi, bisa mengusahakan PRT di rumahnya. Itu pun tidak bisa merekrut PRT dari Indonesia, karena ada peraturan yang melarangnya.

Tetapi, untuk TKI dengan posisi teknisi biasa seperti saya, hampir mustahil bisa mendapatkan hal yang sama. Di samping prosesnya memang sulit dan memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Malah pernah kudengar seorang istri berucap bahwa dia lebih baik tinggal di tanah air, gaji pas- pasan tapi bisa punya pembantu dan bisa hidup seperti seorang ratu yang tidak harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri. Daripada berlimpah harta di negeri orang, tapi tetap harus “nginem” di rumah.

 

Lelah Tak Terbayangkan

Bayangkan saja, istri saya sudah bangun dari jam setengah empat pagi untuk menyiapkan seragam, bekal sarapan dan hal- hal yang saya perlukan untuk bekerja.

Setelah saya berangkat pun, dia masih harus menyiapkan sarapan, baju dan lain- lainnya untuk anak lelakiku yang sekolah.

Selepas si sulung berangkat ke sekolah, dia pun masih harus berlelah- lelah dan menghabiskan berjam- jam waktunya untuk merapikan hampir setiap sudut rumah yang berantakannya seperti kapal dibom, sisa- sisa anak- anak bermain semalaman.

Sarapan pun kadang tidak sempat ketika rumah masih acak- acakan, tapi si kecil sudah terduduk bangun di atas kasur kecilnya dan merengek- rengek meminta susu coklat kegemarannya.

Ketika si kecil bangun pun , rumah yang sudah rapi jali, kembali menjelma menjadi kapal pecah hanya dalam hitungan menit saja.

Pada hari- hari saya bekerja dan si sulung sekolah, sejak bangun tidur, hingga tidur lagi, istriku selalu terlihat sibuk. Hanya sesekali saja kulihat dia bisa bersantai.

Hanya ketika aku dan si sulung libur saja, dan ketika kami sekeluarga pergi keluar rumah kulihat dia bisa sepenuhnya bebas dari pekerjaannya sehari- hari.

Ketika dia masih bekerja pun, tidak mungkin dia sampai selelah itu. Jam kerja kan sudah pasti, dan dia bisa kapan saja beristirahat di antara pekerjaannya.

Di rumah? Jam kerjanya hampir dua puluh empat jam. Istirahat pun tidak menentu, karena harus selalu siap sedia ketika anak- anak membutuhkannya.

Hebatnya lagi, dia sangat jarang mengeluh.

Ahem, terlalu berlebihan dan sangat mustahil banget ya kalau memang istri saya tidak mengeluh. Padahal sih sering banget. Hehehe…

Tapi periode dramatis yang diwarnai tangisan, keluhan, ratapan dan terkadang pertengkaran itu hanya terjadi di periode beberapa bulan pertama istriku tiba di Qatar.

 

Sebuah Jawaban

Berikut adalah curahan hati yang saya edit dan saya dramatisir dari seorang Istri merangkap Ibu Rumah Tangga yang menemani suaminya yang bekerja di Qatar.

Suamiku tercinta, kalau hanya menggugu nafsu ingin hidup seperti seorang ratu, atau sekedar menghindari beratnya tugas seorang ibu rumah tangga, aku pasti sudah minta pulang sejak dulu, sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di negeri padang pasir ini. Karena sejak dari pesawat sejauh mata memandang hanya pasir saja yang nampak di pelupuk mataku ini.

Suamiku, sejujurnya aku tadinya sangat keberatan untuk meninggalkan pekerjaanku karena aku sudah bertahun- tahun terbiasa ditunggu di rumah, bukan menunggu seseorang di rumah.

Suamiku, sejujurnya dulu aku sedih tak terhingga karena harus kukubur dalam- dalam impianku untuk menjadi wanita karir dan meraih posisi setinggi mungkin di perusahaan tempatku bekerja.

Suamiku, sejujurnya aku panik ketika harus memasak dan mencuci piring, karena sebelumnya aku hampir tidak pernah memasak. Selalu ada yang memasakkan untukku sepulang dari pekerjaan.Apalagi mencuci piring. Tanganku saja langsung gatal- gatal ketika pertama kali mencuci piring dengan sabun pembersih khusus piring itu. Sampai sekarang pun aku masih harus memakai sarung tangan ketika mencuci piring.

Suamiku, Aku sudah bertekad bulat meniatkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan cara berbakti kepada suami, sejak  Aku memutuskan untuk menerima pinanganmu dan menyerahkan surat pengunduran diriku kepada atasanku. Tidak kupedulikan lagi berjuta bujuk rayu atasanku yang berusaha mencegahku untuk mengundurkan diri.

Sambil bersabar ketika sepenat apa pun kepala ini harus menahan kantuk dan letih ketika berusaha memisahkan kedua anak kita bertengkar memperebutkan sesuatu, aku selalu berdoa semoga itu menjadi pahala kebaikan untukku dan untukmu.

Sekuat tenaga Aku tahan tangisku, agar tidak ada air mata yang jatuh menetes di depanmu ketika menahan betapa pedihnya luka sayatan bekas operasi caesar sehabis melahirkan si kecil, agar engkau bisa tenang pergi bekerja.

Aku buka cakrawala pikiranku dengan membuka jendela internet yang terbuka lebar- lebar ketika aku merasakan kejenuhan yang luar biasa, merasakan kesendirian dan kesepian yang luar biasa ketika seharian dan semalaman kamu tidak ada di rumah.

Aku paksakan diriku untuk membaca salah satu buku di antara ratusan buku yang kau bawa dari Indonesia, walau pun sebenarnya sejak dulu aku sama sekali tidak suka membaca, ketika aku tidak tahu apa yang aku harus lakukan di waktu luangku.

Aku temui keluargaku dan keluargamu di dunia maya dan melalui pulsa telepon, jika rinduku kepada mereka sudah tak tertahan lagi.

Kubuka- buka saja jadwal mudik, dan foto- foto ketika kita sedang berliburan di Indonesia dan website maskapai penerbangan yang selalu menerbangkan kami pulang, ketika aku dilanda rindu setengah mati kepada kampung halaman.

Selalu kuajak kamu pergi ke taman- taman yang luar biasa indahnya di Qatar, ketika aku kangen indahnya pemandangan hijaunya tanah airku.

Selalu kupandang mobil yang kau kemudikan berlalu keluar garasi dari balik celah sempit tirai di ruang ruang tamu, dan selalu kuingat betapa mudahnya kamu memberikan apa yang istri dan anak- anaknya inginkan ketika musim SALE dan diskon melanda mall- mall di Qatar, jika aku sedang tergoda utuk meratapi dan mengeluh betapa melelahkannya mengurus anak- anak jika kamu tidak ada di rumah.

Selalu kuingatkan diriku bahwa sabarku ini bisa menjadi tiket ke syurga, ketika kuhapus setiap tetes keringat yang menetes di pelipisku ketika aku sudah sampai di puncak kelelahan membereskan “hasil karya” kedua anak- anakku di setiap sudut rumah.

Tapi maafkan aku suamiku sayang, aku melakukan semua itu bukan untuk kamu.

Aku bersabar karena itu semua adalah ibadahku kepada Allah..

Aku ingin menjadi seperti Fatimah Az Zahrah,  yang ditemani oleh batu gilingan gandumnya ke Syurga.

Kupersembahkan tulisan ini untuk para Istri dan Ibu luar biasa yang berada di Qatar, serta di mana pun di muka bumi ini. Semoga Allah menghadiahkan syurga sebagai ganjaran dari setiap detik waktu yang kalian habiskan, dan setiap titik keringat yang menetes untuk mengurus suami dan anak- anak kalian.

Doha, 3 Januari 2013

 

Oleh: Diday Tea

 

Sampul Oase

Paradoks Kemalasan

Paradoks Kemalasan

Kemalasan selalu menjadi musuh besar manusia.

Ada paradoks yang tidak akan terjelaskan selain hanya dengan menyinggung si malas ini.

Di dalam jangka waktu yang sama, seringkali kita bisa melakukan lebih banyak hal jika memang banyak hal yang dibebankan kepada kita.

Ada ungkapan yang sering saya baca, entah hadits, entah ungkapan dari siapa, bahwa waktu yang paling berbahaya adalah waktu luang.

Biasanya, terutama saya nih, kalau di awal hari jadwal pekerjaan hanya sedikit, saya akan cenderung menunda- nunda pekerjaan itu.

Saya cenderung langsung pergi ke pantry, minum teh, ngemil basreng (baso goreng), atau memasak mie instan dulu.

Ketika acara sarapan hampir beres, datang deh teman- teman yang lain dan, terjadilah sarapan berantai, karena selalu ada saja yang membawa cemila atau makanan yang bisa dinikmati beramai- ramai.

Dan ujung- ujungnya, pekerjaan yang hanya sedikit itu, ya bisa selesai mepet ke waktunya makan siang.

Padahal, pekerjaan yang hanya sedikit ini, karena di tempat saya bekerja jadwal pekerjaan selalu berbeda setiap harinya, tergantung permintaan dari user, seharusnya bisa selesai dalam waktu satu atau dua jam saja.

Paradoksnya, kalau begitu melihat daftar pekerjaan  yang terpampang di layar monitor itu jauh lebih banyak dari biasanya.

Secara luar biasa, sarapan menjadi lebih cepat, tidak ada acara ngemil bersama atau ngerumpi lagi. Begitu beres sarapan, minum sebentar, langsung pekerjaan saya mulai.

Dan anehnya, dengan pekerjaan yang jumlahnya berlipat- lipat dan jauh lebih banyak dari biasanya, ternyata tetap saja selesai sebelum waktunya makan siang.

Jika kita bisa menaklukan kemalasan sebentar dan sedikit saja di dalam periode kehidupan kita, ternyata kita bisa melakukan hal yang luar biasa.

Apalagi jika kita bisa istiqomah (konsisten) terus- menerus berusaha menaklukan dan mengendalikan kemalasan, pasti luar biasa!

Doha 210320132121

 

 

productivity

7 (tujuh) Indikator Kebahagiaan Dunia

7 (tujuh) Indikator Kebahagiaan Dunia

Menurut Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

  1. Hati yang selalu bersyukur.
  2. Pasangan hidup yang sholeh.
  3. Anak yang soleh.
  4. Lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
  5. Harta yang halal.
  6. Semangat untuk memahami agama.
  7. Umur yang baroqah.

 

Happiness Green Road Sign with Dramatic Clouds and Sky.

Galau Tidak Pada Tempatnya

Galau Tidak Pada Tempatnya

Galau karena hutang
Galau karena masalah keluarga
Galau karena pekerjaan
Galau karena banyak pikiran

Pernahkah kita

Galau karena sholat ngga khusyu?
Galau karena belum mengaji?
Galau karena kurang shodaqoh?
Galau karena tertinggal sholat berjamaah?
Kalau tidak, jelas sudah bahwa itu pertanda hati kita mulai tertutup kerak hitam dosa dan penyakit hati.

 

 

 

Allah Asy Syakuur, Dia Maha Mensyukuri

Allah Asy Syakuur, Dia Maha Mensyukuri

Allah Asy Syakuur, Dia Maha Mensyukuri setiap kebaikan yang dilakukan hambaNya.

Walau pun kebaikan itu kecil ,sedikit,  dan jauh dari sempurna, tapi Allah memberi banyak sekali.

Allah menerima amalan yang kecil dengan balasan yang sangat besar.

Imam Al Ghazali mengartikan Syakuur sebagai “Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan/ketaatan yang sedikit. Dia yang menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan- amalan yang terhitung dengan hari- hari tertentu yang terbatas”.

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al Baqarah 2:261)

Seperti besarnya balasan yang Allah berikan untuk mereka yang pergi sholat berjamaah ke mesjid: pahala yang berlipat ganda, setiap langkahnya mengugurkan dosa dan menaikkan derajat.

Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

 (Dari QS Al Ahqaaf 46: 15)

 

Diekstrak dari Kajian Asmaul Husna Aa Gym

Cinta Derita

Cinta Derita

Cinta itu jorok. Datang kapan saja, di mana saja, dan sering jatuh tiba-tiba.

Sekolahku berseberangan dengan SMK Kejuruan jurusan per-Tata-an. Tata Boga dan Tata Busana, dan Tatabeuhan (Seni Tari). Walau pun di sekolahku memang lebih banyak perempuan dibanding laki- laki, tetap saja ketika sepulang sekolah, tetap saja jantung ini agak sedikit berdebar melihat ratusan siswi SMK itu keluar dari gerbang sekolah sebelah bersama- sama.

Walau pun tak bisa kulihat satu persatu wajah mereka, tetap saja secara otomatis mataku hanya tertuju kepada mereka yang memakai jilbab. Ya karena seperti itulah aku bertekad  memilih calon istri.

Jilbab mereka saja sudah seperti berkilauan tertimpa oleh cahaya matahari di tengah hari bolong, apalagi ditambah oleh wajah- wajah ayu nan segar yang terbalut oleh jilbab- jilbab putih itu.

Secara, di sekolahku hanya ada sekitar tiga puluh orang dalam satu kelas. Dan satu angkatan pun hanya ada dua kelas. Di dalam kelas yang sudah sedikit orang itu pun, kami kaum lelaki menjadi kaum minoritas, hanya sepertiganya.

Tapi sekolah sebelah itu, ada beberapa jurusan. Dan satu angkatan bisa memiliki sembilan kelas. Dan satu kelas bisa berisi empat puluhan siswa yang kebanyakan siswi.

Bayangkan saja, bagaimana perasaan kami remaja laki- laki yang sedang puber- pubernya yang sudah merupakan makhluk langka di sekolah, hanya sepertiganya kaum wanita, jika melihat lawan jenis sebaya dengan kami sebanyak itu.

Dan itu terjadi hampir setiap hari.

Tapi..di antara ratusan wajah yang hampir setiap hari kulihat, ada satu yang menarik perhatianku.

Jantungku berdegup lebih kencang ketika melihatnya.

Dia tidak cantik luar biasa seperti siswi primadona di sekolahku, yang jadi rebutan laki- laki hampir di semua angkatan. Dia tidak putih-kurus-tinggi-langsing, seperti kecantikan yang digambarkan oleh iklan- iklan di televisi, seolah- olah jika wanita tidak seperti itu  adalah wanita yang tidak cantik.

Tingginya hampir sama denganku. Tapi dia terlihat jauh lebih kecil. Mungkin karena dia terlalu kurus. Wajahnya tidak terlalu putih merona seperti iklan pemutih wajah yang muncul hampir setiap ada jeda iklan di acara sinetron itu. Atau putih mengkilat seperti model iklan pemutih dari Jepang yang menggunakan model yang sebenarnya sudah putih dari orok.

Penipuan.

Tubuhnya pun tidak putih semampai seperti model- model yang sering muncul di majalah.

Ada yang membedakan dia dari ratusan siswa perempuan yang kulihat hampir setiap hari.

Ada tahi lalat kecil di tengah pipi kirinya yang sedikit Chubby (padahal dia kurus ya?).

Ah, entah kenapa, tahi lalat ini yang menjadi POI (Point of Interest).

Dalam seminggu, paling sering aku melihat dia hari Kamis dan Sabtu. Hari di mana jadwal sekolahku seperti sekolah lain, sampai jam satu atau setengah dua siang. Karena di hari- hari yang lain, paling cepat kami bisa keluar dengan selamat walau pun penuh peluh dan lelah tak tertahan dari gerbang sekolah hampir jam setengah lima sore.

Beberapa bulan dari pertama kali melihatnya, aku tidak pernah tahu namanya siapa rumahnya di mana, dia naik angkot apa ke jurusan mana.

Aku sih berpikir,mungkin dia pulang ke arah yang berlawanan.

Pada suatu hari, di tengah rintik gerimis di bulan Mei, aku bisa pulang lebih awal. Hari itu ada ujian praktek, dan aku sangat beruntung. Aku kebagian jatah tugas ujian praktek yang sangat mudah, sehingga ujian bisa kuselesaikan kurang dari satu jam.

Aku memutuskan untuk pulang.

Biasanya sih, aku naik bis kota dari sekolahku. Memang sih, ongkosnya jauh lebih murah. Tapi resiko berdesak- desakan dan terpapar dengan berbagai aroma keringat dari berbagai profesi dan juga berbagai tingkatan umur sangat besar. Aku harus langsung berganti seragam di keesokan harinya.

Ketika betisku sudah terasa panas karena terlalu lama berdiri, tiba- tiba di seberang jalan ada sosok tubuh berseragam abu- abu sedang berjalan seorang diri dari dalam gerbang sekolah sebelah.

Pucuk dicinta ulam tiba.

Mataku tak bisa berkedip menapaki langkah demi langkah gemulainya. Sebenarnya sih dia tidak gemulai- gemulai amat, malah cenderung gontai. Aku sempat tidak percaya sih, tapi setelah dia betul- betul menyeberangi dua jalur jalan aspal yang sangat lebar di depan sekolah kami itu, barulah aku yakin bahwa dia adalah si dia.

Aku kenal betul tahi lalat di pipi kiri itu.

Ternyata dia satu arah denganku!”

            Entah apa yang dia tunggu, angkot atau bis.

Tapi aku sudah bertekad, aku akan naik juga bersama dia, apa pun itu, dan ke jurusan mana pun. Dia berdiri kira- kira sepuluh meter di sebelah kananku. Jadi angkot atau bis yang akan dia naiki masih bisa kukejar.

Aku harus bisa kenalan!”

Ternyata dia memegat (memberhentikan) angkot berwarna hijau muda sedikit kekuningan, jurusan Gedebage- Stasiun Hall.

Aseekkk…Ini kesempatan emas!” Gumamku dalam hati, mensyukuri kondisi yang mempertemukan kami berdua di dalam satu angkot.

Segera kukejar angkot berwarna hijau muda -bukan-koneng-engga itu, dan sukses duduk di sebelah bapak supir angkot yang sama sekali tidak kelihatan seperti bapak- bapak, karena dia tidak berkumis.

Walau pun aku di sebalah supir dan dia di belakang, tapi sesekali bisa kulirikkan mataku membidik wajahnya yang manis dan tahi lalat yang seolah menari di atas pipi kanannya itu.

“Kiri..!” Tiba- tiba suaranya yang ternyata sangat lembut terdengar memecah kesunyian dan keasyikanku memandang wajahnya.

Aku sempat tertegun dan melihat sekeliling.

Dasar! Saking khusyunya melirik si Dia , sampai lupa ada di mana.

Ternyata dia memberhentikan angkot itu di perempatan Buah-batu.

Dengan cepat otakku bekerja, dan memerintahkan tanganku yang sigap langsung merogoh saku, dan memberikan ongkos untuk dua orang kepada si supir angkot.

“Dua Pa, saya sama si teteh yang lagi turun” Kataku sambil mengulurkan empat lembar uang ribuan.

Ketika dia hendak menyodorkan tangannya untuk membayar, aku membuka pintu sambil turun, dan berusaha sedikit menghalanginya sambil berkata:

“Sudah dari saya Teh!”

Sekilas terlihat bordiran nama di atas jilbabnya yang terurai menutupi dadanya: Cinta.

Nama yang sungguh puitis.

“Eh..kenapa??” Dia bertanya.

“Engga..engga usah..!” Dia menolak dan wajahnya terlihat memerah dengan mata yang bingung dan memandangku dengan penuh kecurigaan.

Tapi terlambat, angkotnya sudah berangkat.

“Ini ongkosnya, ambil atuh! Saya ngga mau diongkosin begitu saja tanpa alasan!” Bibirnya  yang merah merona berbicara sambil menyodorkan uang ribuan yang sudah dari tadi dia genggam. Katanya sambil setengah menghadang langkahku.

“Ngga apa- apa Teh, beneran, saya ikhlas. Lagian ngga seberapa kok!” Jawabku lagi.

“Nanti saya jelasin deh, kenapa saya ngongkosin Teteh!” Ucapku lagi sambil mulai memasang kuda- kuda dan mencari cara bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengannya.

Tadinya sih aku niatnya hanya menjadi pria misterius yang membayari ongkosnya dan pergi begitu saja. Tapi kuurungkan saja niatku, karena hari ini kesempatan emas untuk bisa berbicara dengannya.

Kan, siapa tahu dia berjodoh denganku?

Dan pula, aku sudah menandatangani kontrak kerja dengan sebuah perusahaan di Banten.

Dua bulan lagi aku sudah akan bekerja di sebuah perusahaan elit.

Aku kan bisa langsung melamar dia beberapa bulan setelah aku bekerja di sana.

“Maaf ya, saya lancang tiba- tiba ngebayarin angkot tadi” Kataku sambil membalikkan tubuhku ke arahnya. Dan ikut berjalan dari arah perempatan ke arah buah batu.

“Ya kaget aja, tiba- tiba ada yang ngebayarin kaya gitu!” Kata dia dengan sedikit ketus.

“Sekali lagi maafin saya, ya!” Kataku lagi dengan nada memelas.

“Begini Teh, kayanya saya pernah ngeliat Teteh beberapa kali di mesjid Daarut Tauhiid, waktu Kajian Minggu” Aku mulai menjelaskan.

“Saya ikut program Santri Mingguan Teh, jadi tiap Sabtu dan Minggu rutin ”

“Wajah Teteh sangat sering saya lihat. Tadinya sih sempet bingung di mana. Tapi tenyata di DT” Aku terus menjelaskan walau tak ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya.

“Oooo…jadi hanya karena itu kamu ngongkosin saya?” Tanyanya dengan wajah datar.

“Sejujurnya engga juga sih. Sebenernya saya pengen kenalan juga.” Jawabku sambil tertunduk malu dan tangan ini tak terkendali menggaruk- garuk kepalaku yang tidak gatal.

Dia hanya terdiam.

“O gitu ya?” Dia bertanya seolah memintaku melihat wajahnya.

“Ihh..wioss…! Sapertos ka saha wae…” (Ihh Biarin=Ngga apa apa sih, kaya sama siapa aja)  Jawabku dengan nada bercanda untuk memecah suasana yang masih kaku.

“O iya. Saya di SMK sebelah sekolah Teteh, kelas empat” Kataku mencoba memancing.

“Saya kelas tiga, jadi jangan nyebut Teteh dong!” Dia menjawab. Kali ini mulai terbit senyum di bibir merahnya.

“O iya, saya memang rutin ikut kajian Minggu pagi di Daarut Tauhiid. Kamu memang ngga salah liat” Dia akhirnya memberikan konfirmasinya.

“Tuh kan, saya ngga salah!” Aku menjawab dengan super antusias seperti pasukan perang yang baru saja mendapat ransum dari langit.

“Ya Udah deh kalau gitu mah, makasih ya tadi sudah ngongkosin!” Katanya sambil melemparkan senyumnya yang luar biasa manis, semanis tahi lalat yang menghiasi pipinya.

“Saya mah mau ke arah Ciwastra” Kata dia lagi, sambil bersiap- siap untuk menyeberang.

“Oh..saya mah naek yang ke arah Leuwipanjang” Aku menjawab perlahan.

“Semoga kita bisa ketemu di Kajian besok pagi!” Kataku sambil setengah berteriak, karena dia sudah mulai menyeberangi jalan yang siang itu tidak terlalu padat oleh angkot yang berlalu lalang.

“Insyaallah! Assalaamu’alaikum!” Dia menengok lagi sambil menjawab pertanyaanku.

“Wa’alaikumsalaam!” Aku menjawab lirih sambil berjalan ke arah tempat angkot yang menuju rumahku mangkal.

Eh, ternyata takdir Allah mempertemukan kami lagi di tempat yang sangat tepat.

Besoknya, hari Minggu, ketika baru saja aku selesai pelatihan, dan sedang melangkahkan kaki keluar dari ruangan aula, kulihat sebuah mobil sedan berwarna biru parkir tepat di depanku.

Sesosok tubuh berbalut gamis satin dan berjilbab sewarna, merah muda,  melangkah turun dari mobil itu.

Ketika membalikkan wajahnya, wajah yang sangat ku kenal. Lengkap dengan tahi lalat di tengah pipi kirinya.

“Si Cinta..!” Gumamku sambil bergegas mengayunkan kedua kakiku menuju ke tempat si Dia.

“Alhamdulillah, jangan- jangan dia memang jodohku nih!” Aku mulai kegeeran deh.

            “Assalaamu’alaikum!” Sapaku dari kejauhan, tidak ingin dia berlalu ke arah mesjid dulu.

“Wa’alaikumsalaam! Eh, ada di sini ya?” Jawabnya sambil menghentikan langkahnya.

“Iya, kan sudah bilang, jadwal latihannya dari kemarin malem” Jawabku sambil merapikan seragam latihan berwarna biru dongker yang sudah kupakai dari semalam.

Dia terlihat sangat berbeda dengan dibalut gamis seperti itu. Terlihat jauh lebih dewasa dibanding dia yang mengenakan seragam putih abu-abu.

Ketika kami berdua terikat di dalam keheningan, tiba- tiba suara berat seorang laki- laki memecahkan keheningan di dala pikiranku yang sedang terpesona.

“Neng, ayo cepetan atuh, kita ke mesjid, takut keburu mulai!” Dia mengajak lagi, tanpa sama sekali menghiraukan kehadiranku di situ.

Kuamati sejenak laki- laki yang memakai baju koko glossy berwarna hijau toska itu, pastinya sih mahal. Ganteng sih memang, mirip Sahrul Gunawan. Aku? Yaa dibilang jelek sih engga lah, tapi dibilang ganteng juga agak susah. Hehehe.

“Aa duluan deh, mau beli dulu pulsa. Nanti aa tunggu di depan supermarket ya!” Kata laki- laki itu tanpa memandang sedikit pun aku yang berdiri terpaku.

“O iya, ayo atuh!” Dia langsung mengiyakan ajakan laki- laki itu. Sambil berjalan menyusul laki- laki itu.

“Eh, sebentar. Itu siapa? Kakak kamu ya?” Tanyaku penasaran.

“Oh, bukan. Itu teh calon suami saya, insyaallah kami akan menikah dua bulan lagi, setelah aku diwisuda. Minta do’anya ya!” Ucapnya sambil melambaikan tangan dan berlalu sambil melempar senyumnya, yang kali ini kurasa tidak indah lagi.

Cinta seringkali berbuah derita.

Doha, 04052013

Diday Tea

 

 

Patah HAti