MIMPI TAK TERDUGA

MIMPI TAK TERDUGA

“Apapun pekerjaan yang anda lakukan saat ini, maksimalkan pengetahuan dan kemampuan. Jadikan diri anda ahli di bidang pekerjaan anda”

MASA LALU

Sebelum hari itu tiba, masa depan yang terbayang di dalam kepalaku adalah diriku yang dua bulan lagi menjadi sebagai seorang mahasiswa salah satu universitas terbaik bangsa.

Hari itu, hari di mana mimpiku buyar, tapi tidak berantakan. Buyar karena digantikan oleh mimpi lain. Bayangan diriku yang seorang mahasiswa, tergantikan oleh bayangan diriku mengenakan seragam berwarna coklat muda seperti tiga orang yang mewawancaraiku di ruang aula sekolah.

Mereka adalah orang- orang yang memilihku, dan empat orang temanku untuk direkrut oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Mereka bilang kami adalah yang terbaik dari semua siswa kelas empat yang datang hari itu.

Mimpi dan bayangan tentang diriku di masa depan, berganti menjadi seorang karyawan yang berbakti sampai pensiun di perusahaan yang telah merekrutku itu. Bayanganku sih, paling banter posisiku ketika pensiun sudah jadi manager departemen.

Di perusahaan itu, aku bertahan empat setengah tahun, dan pindah ke perusahaan di kota yang sama, Cilegon. Hanya kali ini, aku bekerja sesuai dengan ijazahku, seorang Analis Kimia.

Di perusahaanku yang pertama, aku bekerja sebagai operator produksi.

Mimpi, cita- cita dan bayangan yang hampir sama juga masih ada di kepalaku. Aku akan berbakti hingga pensiun di perusahaan ini.

Ah, kali ini semua itu tidak bertahan lama.

Di perusahaanku yang kedua ini, aku hanya bertahan dua setengah tahun. Ketika itu kondisi finansialku sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Hutang sudah menumpuk di mana- mana karena aku harus menalangi modal para penanam modal di usahaku yang tiba- tiba bangkrut. Uang kuliahku sudah tidak terbayar, sehingga kuliahku pun ikut terbengkalai. Usahaku berjualan buku, kaset, vcd, dan bros yang kurintis kembali dari awal pun agak tersendat karena kekurangan modal.

Pada saat itu, aku berada di titik nadir kehidupan, ketika semua masalah, terutama keuangan datang bertubi- tubi dan hampir tak bisa kupikirkan sama sekali solusinys.

Bulan Juli tahun 2007, aku memberanikan diri untuk melamar ke salah satu perusahaan di Qatar. Mereka memasang iklan lowongan di sebuah surat kabar terkemuka. Dan juga ditambah dengan informasi dari salah seorang kakak kelasku di sekolah, yang memberitahukan lowongan ini sebelum diterbitkan di koran itu.

Walau pun bekerja ke Timur Tengah tidak pernah kuinginkan sebelumnya, tapi aku mulai berpikir bahwa itu bisa menjadi solusi. Dan sejujurnya sih, aku juga tidak ingin jika sampai harus meninggalkan keluargaku di Bandung.

Alhamdulillah, ketika niatku melamar hanya sekedar iseng, pada akhirnya malah aku direkrut bersama empat orang lainnya.

Entah kenapa, ketika itu aku sangat yakin dan percaya untuk bisa diterima. Karena ketika itu aku sedang mengalami periode “puncak kesulitan finansial” di dalam hidupku. Hanya itu harapanku untuk bisa survive. Sebelum test berlangsung, aku melakukan persiapan habis- habisan demi menghadapi test tersebut. Aku pergi ke warnet setiap hari untuk mengunduh materi- materi yang berhubungan dengan perusahaan yang memanggilku untuk test tulis di Jakarta.

Dan Alhamdulillah, Subhanaloh, Allaahu Akbar! Ketika soal test dibagikan, sama sekali tidak ada test tentang hal-hal yang aku unduh dari internet, sama sekali tidak ada pertanyaan mengenai produk perusahaan tersebut. Yang ada hanya soal- soal yang sangat dasar tentang kimia. Dan subyek lainnya, ini yang paling utama menurut perwakilan dari perusahaan tersebut adalah “The Learning Ability”, test kemampuan belajar.

Soal- soal yang lebih menyerupai Test IQ dibanding test masuk perusahaan, hanya ini diujikan dalam bahasa Inggris.

Soal- soal yang memang bakal menjadi “makanan empuk” untuk kecepatan membaca dan kecepatan berpikirku. Dan benar saja, dari  satu jam yang diberikan oleh penguji, aku bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu dua puluh menit! Alhamdulillah.

Setelah melalui proses wawancara dan test medis, akhirnya aku pun ditawari kontrak kerja melalui email.

Rasanya sungguh mustahil, mengingat persaingan yang sangat ketat ketika itu, dan saingan yang kurasa sangat berat, karena banyak dari mereka yang memiliki pengalaman puluhan tahun. Aku? Bekerja di laboratorium saja baru dua setengah tahun.

Orang tuaku tadinya sangat menentang keputusanku untuk berangkat ke Qatar. Ya, seperti tipikal orang Bandung lainnya yang cenderung memilih untuk tetap di Bandung, Cilegon pun yang jaraknya tidak sampai tiga ratus kilo meter sudah terasa terlalu jauh.  Apalagi Qatar yang berjarak ribuan kilometer, naik pesawat pun perlu delapan jam.

Adu argumen dan tarung pendapat antara aku dan orang tuaku berlangsung sampai beberapa hari.

Mereka akhirnya lulus, ketika aku menyebutkan mimpi- mimpi terbesarku untuk aku dan keluargaku: mereka.

Aku bilang sampai kapan pun aku tidak mungkin akan bisa membelikan mereka rumah yang lebih layak ditinggali dibanding rumah yang sering kebanjiran itu. Aku bilang aku tidak akan bisa mengirim mereka untuk naik haji. Aku bilang, aku tidak mungkin bisa membiayai kuliah kedua adik kembarku. Bahkan aku tidak mungkin bisa bermimpi untuk bisa membeli rumah sendiri atau menikah dalam waktu dekat. Aku tidak mungkin melakukan semua itu jika hanya mengandalkan gajiku yang pas-pasan. Aku jelaskan kepada mereka bahwa semua itu hanya mungkin kulakukan jika aku menerima gaji puluhan juta di perusahaan Qatar itu.

Akhirnya Bapak dan Ibu pun luluh dan bisa mengikhlaskan kepergianku, walaupun kulihat air mata mereka tak henti-hentinya mengalir sampai kulambaikan tanganku di terminal keberangkatan bandara Soekarno-Hatta.

MASA KINI- ADAPTASI

Aku tiba di Doha tanggal 18 Januari 2008. Sebelum benar- benar menginjakkan kaki di sini, yang terbayang sih cuaca di Timur Tengah ya panas, panas sepanjang tahun.

Ternyata ada musim dinginnya. Waktu pintu pesawat terbuka, dan aku sudah bersiap- siap membuka jaket, eh ternyata malah udara dingin menggigil sampai menusuk tulang yang menyambutku. Pagi itu di Doha, jam 06:00 suhu yang tercatat hanya 12 derajat celsius. Bahkan lebih dingin dari Bandung, atau Lembang sekali pun.

Hari- hari pertama sih, aku masih mengurus formalitas. Tes kesehatan, membuat rekening bank untuk menerima gaji bulanan nanti.

Lima hari pertama kulalui dengan nikmatnya diajak jalan-jalan dan ditraktir oleh teman- teman yang sudah lebih dahulu ada di Qatar.

Perbedaan yang paling terasa di hari- hari pertama di Qatar, adalah kemewahan dunia yang ketika di Indonesia tidak pernah kumimpikan.

Tinggal di hotel yang mewah, bisa mandi di bath tub, makan steak yang sebesar piring.

Tiap sore ada orang hotel yang  menawari untuk membersihkan kamar, bahkan membersihkan piring kotor bekas makanku dan teman sekamarku.

Duduk di mobil jemputan selama minggu pertama, serasa jadi Presdir. Jok mobil yang dibalut kulit halus, dengan sang sopir yang jauh lebih ganteng dari Tom Cruise selalu menjadi tumpangan kami.

Urusan makanan juga tidak masalah. Bukan rasanya, tapi ukuran porsi yang luar biasa besar untuk ukuran orang Indonesia. Orang Indonesia yang terbiasa makanan berbumbu sih, tidak akan kesulitan untuk beradaptasi dengan masakan India yang kurang lebih sama. Hanya ada beberapa makanan yang baunya terasa kurang enak di hidung, dan rasanya kurang cocok di lidah karena terlalu tajam.

Hampir tidak ada masalah untuk urusan berkomunikasi dengan warga setempat, karena semua orang bisa berbahasa Inggris dengan lumayan lancar.

MASA KINI- MENUJU SUKSES

Dulu, jangankan untuk membeli, untuk bermimpi punya mobil saja aku tidak berani. Jangankan membeli mobil, untuk membiayai kuliahku saja aku sudah sangat kewalahan dan sampai harus berhutang kanan- kiri- atas- bawah.

Alhamdulillah, kini di garasi kami ada dua mobil yang tergolong mewah di Indonesia selalu siap untuk mengantar kami sekeluarga ke mana pun di Qatar.

Dulu, jangankan membeli rumah besar, sedangkan untuk membayar kontrakan rumahku yang hanya dua ratus lima puluh ribu sebulan saja aku sering menunggak. Alhamdulillah, Allah memberiku keluasan rezeki sehingga aku bisa membelikan sebuah rumah yang lebih dari layak untuk orang tua dan keluargaku di Bandung.

Dulu, jangankan membiayai kuliah kedua adik kembarku, untuk biaya hidup sehari- hari saja aku sudah kewalahan.

Alhamdulillah, aku bisa membiayai mereka sampai lulus dari sebuah universitas yang ternama di Bandung.

Kata temanku sih, perusahaan- perusahaan di Timur Tengah ini berani membayar karyawan dengan gaji yang sangat tinggi karena bahan baku yang sangat melimpah. Karena ditemukannya deposit gas alam dan minyak bumi yang sangat banyak di wilayah mereka.

Adaptasi yang paling sulit untuk keluarga dan diriku juga adalah dengan cuaca ekstrim ketika. Ketika musim panas, suhu di luar bisa mencapai lima puluh derajat Celsius. Pernah kugambarkan bagaimana panasnya di dalam salah satu tulisanku.

Bayangkan saja, di tengah hari bolong, ketika matahari tepat berada di atas kepala kita, berdiri di belakang knalpot bis kota antar provinsi yang baru tiba, sambil meniupkan hairdryer ke muka kita, dan membuka penanak nasi yang masih mengeluarkan asap panas, hehehe.

Musim panas berlangsung dari April sampai Oktober.

Musim dingin biasanya dimulai dari November sampai Maret.

Dan sebaliknya ketika musim dingin tiba, suhu akan turun drastis sampai tujuh derajat Celsius. Kami tidak bisa mandi selain dengan air panas. Karena air dingin akan terasa menusuk- nusuk kulit seperti ratusan jarum yang ditusukkan bersamaan.

Dingin menusuk tulang.

Untuk masalah sehari- hari seperti rekreasi, olahraga, pusat perbelanjaan, atau supermarket keluargaku sangat cepat menyesuaikan diri. Di Doha banyak taman- taman buatan yang sangat nyaman untuk dikunjungi. Kami tidak merasa seperti berada di tengah gurun, kecuali di saat musim panas tentunya. Itu pun hanya karena panas yang terik. Selebihnya, padang rumput, kolam, burung, air mancur, pohon- pohon besar, membuat kami lupa bahwa kami sedang berada di tengah gurun pasir nan gersang.

Untuk urusan sosialisasi, Alhamdulilah di Qatar hampir tidak ada masalah. Aku tidak pernah merasa sendiri. Di tempatku bekerja saja ada lebih dari seratus orang Indonesia. Bahkan di departemenku, ada empat orang Indonesia, dan mereka semua berasal dari Jawa Barat. Walhasil, sehari- hari pun kami berkomunikasi menggunakan bahasa Priangan.

Bermain bola, tenis, bola basket, badminton, futsal, semua ada fasilitasnya. Dan dengan kualitas yang sangat bagus.

Kata teman- temanku, lapangan bola yang dibuka untuk umum saja, masih lebih baik dari rumput stadion Gelora Bung Karno.

Urusan hiburan, walau pun tidak sebanyak Bandung atau Jakarta, tapi di Qatar insyaallah tidak akan terlalu membosankan. Karena mulai ada beberapa pusat perbelanjaan megah dan mewah sedang dibangun dengan fasilitas yang sangat mewah.

Ada salah satu pusat perbelanjaan paling besar yang bisa menghabiskan seharian penuh waktu kami sekeluarga. Waktu itu kami iseng dan penasaran untuk mengunjungi setiap toko yang ada di City Center, nama pusat perbelanjaan tersebut. Maksud kami sih waktu itu sekalian ngabuburit juga, karena saat itu adalah bulan puasa.

Kami baru keluar dari pusat perbelanjaan tersebut hampir jam sebelas malam, padahal kami sudah tiba sejak jam sepuluh pagi.

Bahan makanan Indonesia saja lumayan lengkap, ada tiga supermarket yang khusus menjual makanan Indonesia, dan setidaknya lima restoran Indonesia di Qatar. Dari mie instan, kepuruk kulit, saos pedas, makanan ringan, camilan untuk anak kecil, sampai daun salam, bahkan jengkol dan pete pun lengkap, ada hampir di semua toko- toko ini.

Bahkan, tahu dan tempe pun ada yang menjual. Dan percaya atau tidak rasanya malah lebih enak dari tahu dan tempe di Cilegon!

Dengan koneksi internet yang lumayan cepat, kami bisa leluasa menjelajahi sebanyak apa pun halaman web yang kami suka.

Di hari libur, jadwal rutin kami sih, tidak begitu istimewa, taman, supermarket, silaturahmi ke rumah teman, arisan bulanan dengan komunitas- komunitas yang kami ikuti.

Walau pun tidak rutin, tapi aku lumayan sering membuat tulisanku di blog www.didaytea.com. Alhamdulillah, sudah dua buku yang terbit dari tulisan- tulisanku itu..

Tentunya tidak ada yang ingin selamanya tinggal di negeri orang sebagai perantau. Selalu ada keinginan untuk bisa mudik ke kota kelahiran.

Aku masih ingin menabung dan sekolah.

Sekarang aku memulai lagi menjalani kuliah, walau pun hanya di Universitas Terbuka. Semoga kali ini tidak terbengkalai seperti kuliah- kuliahku sebelumnya. Kali ini tidak ada alasan bahwa aku tidak kuat membayar uang kuliah. Hanya kemalasan yang bisa menjadi penghambatku. Semoga aku bisa melanjutkan pendidikan minimal sampai ke tingkat Master, untuk bekal aku di Indonesia kelak.

Rencananya sih, target minimalku adalah menabung sampai cukup untuk membeli rumah yang cukup besar dan kendaraan yang layak, serta sudah terkumpul cukup uang untuk menjamin sekolah anak- anakku sampai lulus kuliah kelak.

Dengan tabungan yang cukup, materil dan modal latar belakang pendidikanku, insyaallah aku akan pulang dan mengisi hari- hari tuaku dengan mengajar dan menjadi penulis.

SOLUSI

Indonesia mempunyai reputasi yang buruk karena kasus- kasus yang melibatkan TKI/TKW di luar negeri.

Sebaiknya pemerintah mulai membuat lembaga pelatihan khusus yang menaungi seluruh PJTKI di Indonesia untuk meningkatkan kualitas Tenaga Kerja kita yang berangkat ke luar negeri.  Dari kemampuan berkomunikasi sampai pengenalan mereka kepada teknologi.

Dengan meningkatkan kualitas tenaga kerja, seharusnya tidak ada lagi terdengar kasus- kasus negatif yang melibatkan Tenaga Kerja dari Indonesia.

Dengan sendirinya juga reputasi Tenaga Kerja Indonesia akan meningkat dan jauh lebih dihargai seperti Tenaga Kerja yang berasal dari negara tetangga kita di ASEAN: Filipina.

Dengan hanya berbekal ijazah SMK dan pengalaman tidak sampai lima tahun, aku bisa menembus persaingan yang sangat ketat ke Timur Tengah. Dukungan yang lebih maksimal dari pemerintah untuk memfasilitasi SMK- SMK yang sudah berdiri, tentunya akan bisa menambah jumlah tenaga kerja yang siap pakai. Dan pastinya akan menambah angkatan kerja baru yang bisa menembus pasar tenaga kerja di luar negeri.

Proses adaptasi setiap orang akan berbeda- beda.

Akan selalu ada halangan, tantangan dan rintangan selama bekerja di luar negeri. Hal- hal yang sangat unik dan tidak pernah kita dapati di negara sendiri, akan sering muncul di hadapan kita.

Apapun pekerjaan yang pembaca lakukan di saat ini, maksimalkan pengetahuan dan kemampuan. Jadikan diri anda ahli di bidang pekerjaan anda.

Tingkatkan kemampuan komunikasi, terutama dengan menguasai bahasa asing. Tidak hanya bahasa Inggris, walau pun sampai sekarang ini masih menjadi bahasa yang paling penting.

Masih banyak kesempatan untuk bekerja di Timur Tengah.

Jika memang tujuan anda ingin kelak ingin bekerja di Timur Tengah, persiapkan diri anda sejak sekarang.

Pilih bidang yang beberapa tahun lagi akan booming.

Di Qatar saja, perusahaan- perusahaan petrokimia masih saja melakukan ekpansi. Belum lagi proyek kontruksi yang luar biasa besar, karena terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Dunia Teknologi Informasi dan komunikasi, perminyakan dan gas, petrokimia, serta konstruksi tentunya masih akan terus berkembang dengan pesat, bahkan sejak beberapa tahun yang lalu.

Semoga sukses mencapai mimpi anda dan mimpi kita semua!

Doha, 16 Februari 2015

http://edubisnis.net/dap/a/?a=88&p=www.edubisnis.net/internet-income-blueprint

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *